SOEARAKALSEL.COM, BANJARBARU – Nasib populasi bekantan di Kalimantan Selatan kembali menjadi perhatian setelah karhutla melanda Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Kebakaran yang terjadi pada Minggu (13/9/2026) menyebabkan 12 ekor bekantan ditemukan mati. Tidak hanya bekantan, BKSDA Kalsel juga menemukan satu ekor piton dan satu ekor king kobra yang turut menjadi korban kebakaran.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap satwa dilindungi tidak hanya berasal dari perburuan maupun aktivitas manusia secara langsung, tetapi juga dari rusaknya habitat akibat kebakaran.
Habitat bekantan di Balimau berada di kawasan Area Penggunaan Lain (APL), yang terdiri dari tanah desa dan lahan milik masyarakat. Sekitar 80 persen lahan masyarakat di kawasan tersebut dilaporkan terbakar.
Padahal, kawasan itu juga menjadi tempat hidup satwa lainnya, seperti lutung atau hirangan dan monyet ekor panjang. Keberadaan satwa yang masih bertahan di kawasan tersebut kini turut menjadi perhatian petugas.
Pemerintah desa memperkirakan terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan Balimau. Namun, angka tersebut masih harus diverifikasi BKSDA melalui pemantauan langsung di lapangan.
Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menilai perlindungan bekantan harus dimulai dari habitatnya. Menurutnya, karakter bekantan yang pemalu membuat satwa tersebut sulit dilindungi secara langsung ketika terjadi ancaman.
“Bekantan ini kalau melihat kita saja sudah lari karena tergolong satwa yang pemalu. Jadi cukup sulit untuk mendekat atau memberikan perlindungan langsung saat ancaman datang,” ujar Muhidin di Banjarbaru, Kamis (16/9/2026).
Karena itu, menurut Muhidin, menjaga kawasan tempat bekantan hidup menjadi langkah penting. Termasuk memastikan tanaman yang menjadi sumber pakan tetap tersedia.
Salah satunya adalah pohon rambai yang menjadi makanan utama bekantan.
“Yang paling penting saat ini adalah menjaga daerah-daerah habitatnya, terutama tanaman rambai yang menjadi makanan utama bekantan, jangan sampai terbakar,” katanya.
Muhidin juga mendorong penguatan pencegahan dan penanganan karhutla di kawasan habitat bekantan, termasuk wilayah konservasi seperti Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala.
Perhatian terhadap habitat bekantan juga disampaikan Ketua DPRD Kalsel H Supian HK. Ia meminta keberadaan habitat satwa dilindungi tersebut ditata sehingga lebih mudah dipantau.
Supian mengatakan, pengelolaan habitat yang lebih terintegrasi akan memudahkan petugas mengetahui lokasi populasi bekantan sekaligus melakukan tindakan apabila terjadi ancaman.
“Kita sangat prihatin, karena bekantan ini merupakan hewan yang dilindungi di Kalsel. Jangan sampai habitatnya terus terancam akibat kebakaran,” kata Supian HK.
Ia menyebut sebelumnya terdapat sekitar 42 ekor bekantan yang pernah dikelola dan dititipkan di Pegunungan Meratus.
“Kita berharap habitat bekantan dapat disatukan dalam populasinya dan mudah diawasi. Kalau terjadi sesuatu seperti karhutla, kita bisa mengetahui di mana hunian mereka dan segera melakukan penanganan,” ujarnya.
Supian juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla dalam beberapa waktu ke depan.
“Dua bulan ini kita harus waspada. Semua masyarakat juga harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Di lokasi kebakaran, BKSDA Kalsel masih melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi satwa yang kemungkinan masih bertahan. Petugas juga melakukan pendataan korban serta mengkaji kondisi habitat, termasuk kemungkinan dilakukannya translokasi apabila diperlukan.
Data BKSDA menunjukkan populasi bekantan di Kalsel pada 2025 mencapai 3.757 individu yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, 1.281 individu berada di 12 kawasan konservasi.
Kematian 12 bekantan di Balimau menjadi pengingat bahwa keberlangsungan satwa endemik Kalsel sangat berkaitan dengan kondisi habitatnya. Perlindungan kawasan dan pengendalian karhutla menjadi bagian penting dalam menjaga populasi bekantan tetap bertahan.
Tags
Peristiwa & Bencana