SOEARAKALSEL.COM, BANJARMASIN – Tidak ada yang menyangka perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin berubah menjadi mimpi buruk di tengah Laut Jawa.
Malam itu, sebagian penumpang Kapal Virgo Transport 8 tengah terlelap. Ada yang tidur di sofa, ada pula yang berada di kamar ekonomi.
Namun sekitar pukul 02.00 Wita, suasana berubah seketika.
Teriakan membangunkan penumpang. Kapal mulai miring. Kepanikan pecah. Sebagian penumpang berusaha mencari jalan keluar, sementara yang lain masih berada di dalam kamar.
Bagi mereka yang selamat, beberapa menit pada dini hari itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Terbangun karena Kapal Sudah Miring
Ahmad Saudi merupakan salah seorang penumpang yang berhasil menyelamatkan diri.
Saat kejadian, Ahmad mengaku sedang tidur di sofa. Ia baru menyadari adanya keadaan darurat setelah mendengar seseorang berlari.
Orang tersebut meneriakkan bahwa kapal sedang miring.
"Kalau kejadiannya ya singkat aja. Waktu saya tidur kan, saya kan tidur di kursi, di sofa. Jadi saya tidur itu ada orang lari. Saya tanya kenapa? Kapal miring. Terus saya berdiri, ternyata miring sungguhan," kata Ahmad, seperti dikutip detikKalimantan.
Tanpa banyak waktu untuk berpikir, Ahmad berusaha mencari tempat untuk bertahan.
Ia berlari ke bagian bawah kapal dan kemudian berpegangan pada jendela ketika kemiringan kapal semakin terasa.
"Langsung saya lari ke bawah, terus saya ke jendela, saya pegangan sampai kapal itu miring," tuturnya.
Setelah berhasil naik ke bagian atas kapal, Ahmad hanya bisa menunggu.
Kapal terus berada dalam kondisi kritis hingga akhirnya tenggelam. Saat kapal karet muncul, Ahmad langsung melompat untuk menyelamatkan diri.
"Baru ada kapal karet itu keluar, baru saya loncat," ujarnya.
Tak Ada Alarm yang Membangunkan Penumpang
Cerita Ahmad bukan satu-satunya kesaksian yang menggambarkan kepanikan malam itu.
Seorang korban luka yang ditemui di posko penanganan korban di Banjarmasin juga mengaku tidak mendengar adanya pemberitahuan resmi dari pihak kapal ketika kondisi mulai memburuk.
Ketika ditanya apakah ada pengumuman dari pihak kapal, korban menjawab tidak.
"Nggak ada Pak. Pokoknya inisiatif, ada orang teriak, oh kapalnya oleng, oleng, oleng," ungkapnya.
Yang membuat situasi semakin genting, kecelakaan terjadi ketika sebagian besar penumpang masih tidur.
"Kebanyakan masih ada yang tidur Pak. Kejadiannya jam dua dini hari," katanya.
Di tengah gelapnya malam dan kondisi laut yang buruk, penumpang kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan alat keselamatan yang tersedia.
Namun menurut korban, pelampung tidak mencukupi.
"Pelampungnya tercukupi atau gimana? Nggak tercukupi Pak, jadi rebutan," tuturnya.
Panik semakin tak terkendali. Penumpang disebut saling dorong dan mencari tempat yang dianggap aman.
"Panik Pak semuanya Pak, ada yang ke meja, ada yang saling dorong. Pintu evakuasinya udah masuk air," lanjutnya.
Mereka yang Masih Berada di Dalam Kamar
Bagi penumpang yang berada di ruang terbuka, kesempatan menyelamatkan diri mungkin masih tersedia.
Namun situasinya berbeda bagi mereka yang berada di dalam kamar.
Ahmad menduga sejumlah penumpang, terutama perempuan yang berada di kamar ekonomi, tidak sempat keluar ketika kapal mulai miring dengan cepat.
"Tapi yang lain, ibu-ibu yang tinggal di kamar ekonomi ya, itu mungkin nggak selamat karena terlalu cepat kapal ini kemiringannya," kata Ahmad.
Menurutnya, kondisi semakin sulit karena tidak terdengar alarm pemberitahuan.
"Sedangkan alarm pemberitahuan aja nggak ada. Yang keluar ini kan sopir-sopir aja, orang laki-laki. Yang di kamar-kamar belum bisa keluar," ujarnya.
Kesaksian tersebut kini menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri dalam mengungkap bagaimana proses evakuasi berlangsung ketika kapal berada dalam kondisi darurat.
Apakah sistem peringatan dini bekerja?
Apakah seluruh penumpang memiliki akses yang cukup terhadap alat keselamatan?
Dan apakah jalur evakuasi dapat digunakan ketika kapal mulai kemasukan air?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin penting karena kecelakaan berlangsung pada dini hari, ketika sebagian besar penumpang sedang tidur.
Enam Orang Meninggal, 129 Masih Dicari
Tragedi tersebut berujung pada operasi pencarian dan pertolongan besar-besaran di Laut Jawa.
Hingga Minggu sore, tim SAR gabungan mencatat 108 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Enam orang ditemukan meninggal dunia, sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian.
Operasi SAR melibatkan sejumlah armada laut dan udara, termasuk unsur TNI AL serta helikopter Polri.
Di tengah upaya menemukan para korban, sorotan terhadap keselamatan pelayaran juga mengemuka.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kalimantan Selatan menilai tragedi Virgo Transport 8 harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi laut.
Bukan hanya soal penyebab kapal terbalik, tetapi juga bagaimana sistem peringatan, ketersediaan pelampung, akses jalur evakuasi, hingga prosedur penyelamatan penumpang dijalankan saat keadaan darurat.
Sebab bagi penumpang Virgo Transport 8 yang berhasil selamat, malam itu bukan sekadar kecelakaan di tengah laut.
Kini, kesaksian para korban menjadi pengingat bahwa dalam transportasi laut, beberapa detik keterlambatan peringatan bisa menentukan siapa yang sempat menyelamatkan diri dan siapa yang terjebak di dalam kapal. (Thania Ang/berbagai sumber)